KAWANNEWS-Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI), guru dituntut terus berinovasi dan meningkatkan kompetensi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh mengesampingkan peran guru dalam membentuk karakter dan moral peserta didik.
Pesan tersebut ditegaskan Wakil Bupati Tapanuli Utara, Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng., saat menjadi narasumber utama dalam Seminar Pendidikan yang digelar di Gedung Sopo Partungkoan, Tarutung, Selasa (27/10/2026).
Seminar bertema “Anggota PGRI sebagai Guru Profesional yang Adaptif terhadap Kemajuan Zaman” ini merupakan rangkaian pelantikan pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Tapanuli Utara periode 2026–2030, yang diikuti para pendidik dan kepala sekolah se-Kabupaten Tapanuli Utara.
Dalam pemaparannya, Wabup Deni menekankan bahwa guru profesional harus memiliki kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi digital dan AI dinilai dapat memperkaya metode pembelajaran agar lebih kreatif, interaktif, dan efektif.
Menurutnya, penguasaan teknologi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran. Karena itu, para guru perlu memahami cara memanfaatkan teknologi secara tepat, sekaligus memastikan penggunaannya benar-benar mendukung proses pendidikan.
Meski demikian, Wabup mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan mampu menggantikan sepenuhnya peran guru sebagai pendidik dan teladan bagi peserta didik.
“Di era transformasi digital saat ini, para guru dituntut untuk tidak berhenti belajar dan terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Pemanfaatan perangkat digital dan kecerdasan buatan harus dikuasai sebagai sarana penunjang untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan relevan bagi siswa,” ujar Deni.
Ia menegaskan, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membangun kepribadian, menanamkan nilai moral, serta mengembangkan karakter peserta didik. Dalam hal ini, sentuhan kemanusiaan dan keteladanan seorang guru tetap menjadi unsur penting yang tidak dapat digantikan oleh mesin.
“Teknologi hanyalah alat bantu. Nilai-nilai moral, keteladanan, kepribadian, dan sentuhan humanis seorang guru dalam membentuk karakter anak bangsa tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun,” tegasnya.
Melalui seminar pendidikan ini, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara berharap para guru semakin siap menghadapi tantangan zaman melalui inovasi pembelajaran, penguasaan teknologi, dan penguatan pendidikan karakter.
Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Tapanuli Utara, sekaligus melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan mampu bersaing menghadapi tantangan masa depan.(rED-KN)
















